Overprotective pada Anak

Overprotective akan menyebabkan anak menjadi tidak mandiri dan secara alami akan menjadi korban buli dari teman-temannya.

o·ver·pro·tec·tive : having a tendency to protect someone, especially a child, excessively.

Ciri-ciri Overprotective :

  1. Selalu tidak percaya. Anak jarang mendapat kepercayaan dari ortu. Kalau pergi ke teman untuk kerjakan tugas selalu dipikir jalan-jalan . Setiap saat di cek keberadaannya.
  2. Pengawasan 24 jam ala CCTV 🙂 dimanapun, kapanpun, harus jelas. Kalau perlu pakai GPS.
  3. Selalu kuatir terhadap anak. Kalau ada acara outdoor seperti camping, kuatir nanti anak susah makan, kuatir akan kedinginan,  dan kuatir tidak bisa tidur.
  4. Kebersihan adalah segalanya. Jalan lepas sandal dipinggir pantai akan jadi masalah. Minum air masak dari sumber air pun tidak diharapkan.
  5. Dilarang ambil resiko. Entah nanti akan kepanasan, kotor, kena air hujan . (ini acara apa ya ? )
  6. Keputusan ortu adalah yang terbaik. Makan siang bakso lebih baik dari makan soto yang pilihan anak . Sepatu model ini lebih baik dari kesukaan anak.
  7. Semua dibantu ortu. Hal yang semestinya anak sendiri yang mengerjakan tapi diambil alih oleh ortu.
  8. Jangan ini, jangan itu, tidak boleh ini, tidak usah itu, … harus ini, mesti begitu. Jarang menanyakan apa yang diinginkan oleh anak dan memberikan kesempatan.
  9. Isi sisa hari dengan LES. Mulai dari les piano, matematika, fisika,  …(isi yang baik2). Agar anak dalam kondisi terkontrol .
  10. Menentukan jalan hidup anak dengan rencana-rencana tertentu. Hal ini tanpa melihat apa yang menjadi keinginan ataupun minat anak.

Air mengalir dari tempat tinggi ke rendah. Buli membuli terjadi jika anak dalam kondisi yang lemah. Terjadi pada anak yang penakut, tidak punya inisiatif, terlalu tergantung pada orang lain,

Orang tua yang terlalu melindungi anak saat konflik yang wajar dengan teman sebaya nantinya akan melihat anak yang tumbuh rapuh dalam menghadapi kehidupan. Pribadi yang rapuh adalah obyek empuk untuk dibuli.

Orang tua yang selalu menentukan bagaimana hidup ini harus jalan, nantinya akan melihat anak tidak dapat mengambil keputusan. Keputusan akan diambil untuk anak tersebut oleh anak/orang lain. Ayok kamu yang lakukan itu !

Anak yang terlalu banyak les, akan kurang kreatif dan inovatif. Karena waktu untuk eksplorasi telah habis untuk les. Tidak tahu bagaimana cara berhadapan dengan teman-teman . Oh ya di les tidak diajarkan cara menghadapi teman yang bermasalah khan ?

Anak yang terlalu banyak dilarang akan kesulitan untuk mempunyai inisiatif . Tidak punya kebiasaan untuk melangkah sesuai pikiran dan keinginannya.

Anak yang terlalu banyak dibantu akan kurang mandiri dan tergantung dari orang lain dalam hidupnya. Orang yang tergantung akan mudah untuk dibuli dibanding yang mandiri.

Anak yang hidupnya dipenuhi kekuatiran tidak akan berkembang. Hidup bagai katak dalam tempurung. Kurang berani untuk melangkah keluar.Kekuatiran berlebihan pada anak akan menarik para pembuli untuk melempar katak kertas.

Anak yang kurang mendapat kepercayaan akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri. Anak yang tidak percaya diri sudah cukup untuk menjadi magnet para pembuli.

Jika anak tidak dapat mengembangkan dirinya sendiri, dimanapun dia berada akan menjadi sasaran empuk bagi yang berkuasa. Relasi sosial anak adalah soal “perebutan kekuasaan” dan pengaruh. Entah secara halus atau kasar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s