Jangan bermain atau diusir satpam :)

“Nenek ingin aku memperoleh pendidikan, karenanya dia melarangku sekolah” -Margaret Mead

Bermain merupakan hal vital dalam proses pembelajaran. Kenyataan di lapangan berbeda. Kata bermain sering  di kambing hitamkan  sebagai kontra dari kata belajar.  “Jangan bermain terus, ayok belajar !”  ” Kok main terus ? Kapan belajarnya?”

Dalam prakteknya, belajar diasumsikan merupakan kegiatan terstruktur, terencana, dan pasti. Sedang bermain justru kebalikan. Tidak terstruktur, penuh kejutan, dan bahkan mengandung resiko tertentu.

Standar model belajar dan bermain

Trend yang sedang berkembang adalah : Bermain sambil belajar. Atau Belajar sambil bermain. Terlepas dari semua itu, standar tiap orang tentang belajar dan bermain  berbeda-beda.

Sekarang lihat standar kecantikan sebagai perbandingan.

Standar kecantikan umumnya  dibawakan oleh para model cantik di panggung. Iklan-iklan sexy di media promosi . Langsing, tinggi semampai, rambut panjang, dan cantik. Jika tidak langsing, maka tidak ideal.

Mungkin lebih tepatnya standar kecantikan banyak dipengaruhi oleh industri besar fashion dan alat-alat kecantikan.

Tapi pada suku tertentu dipedalaman, standar kecantikan adalah wanita dengan bobot extra. Semakin gemuk semakin cantik dan diperebutkan. Nilai kesuburan dan kelimpahan disimbolkan dengan bobot tubuh.

Siapa yang mempengaruhi model belajar yang ideal  ?

Saya curiga, model belajar dipengaruhi oleh model cantik dipanggung Industri. Katakanlah industri manufaktur dengan standar Six Sigma alias 3,4 DPMO (defects per million opportunities). Maksudnya dari 1.000.000 botol air mineral yang diproduksi, maksimal hanya  3 botol saja yang diijinkan cacat.

Kalau dikonversikan ke nilai ulangan Fisika, Andi wajib mendapat nilai minimal 99,999997. Atau dari 1 juta soal, hanya boleh salah 3 soal saja.  Dunia Industri tidak mentoleransi kesalahan produksi. Jangan bermain disini, atau akan diusir satpam.

Apakah sekolah mentoleransi kesalahan? Dalam hal ini,standar sekolah lebih mudah. Jika KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) = 75, Andi dikatakan tuntas jika mendapat nilai minimal 75.

Masalahnya, setiap tahun sekolah berlomba-lomba untuk menaikkan nilai KKM. Kalau bisa KKM  80 mengapa mesti  75 ? Semakin lama toleransi kesalahan semakin kecil. Sekali lagi, jangan bermain disini.

Terus mengapa sekolah? Supaya pintar. Pintar bagaimana ? Dari tidak bisa menjadi bisa. Terus kalau banyak belajar khan banyak salah  ? Bagaimana bisa belajar kalau toleransi terhadap kesalahan kecil ? lol

Jadi, jangan bermimpi mengharapkan anak belajar (Menurut definisi sesungguhnya). Apalagi sambil bermain. Sebenarnya anak tidak belajar di sekolah, karena belajar adalah melakukan eksplorasi. Coba dan salah, bermain dan berlari.(Tentu Anda dapat menambah sendiri arti belajar yang ideal).

Mengharapkan ada perubahan sikap terhadap tingkah laku atau pikiran juga berat. Yang dituntut pertama adalah nilai dengan kesalahan sekecil mungkin.

Proses bukanlah tujuan dari dunia Industri. Yang penting adalah hasil akhir. Kalau proses bisa cepat akan semakin baik, karena menghemat biaya. Bermain mengandaikan faktor ketidakpastian atau kejutan sebagai hal lumrah. Hal ini sangat bertolak belakang dari sistem pembelajaran yang bernafaskan dunia Industri.

Belajar yang ideal semestinya banyak bermain 🙂 Tapi hal ini akan merepotkan. Juga dari sisi efisiensi kurang baik. Dunia industri butuh pengelompokan dan pengaturan secara sentral agar cepat dan efisien. Semua diberi label sama agar penanganan cacat produk dapat dengan cepat diatasi.

Kalau tahu sekolah seperti ini, trus mengapa sekolah ? Mending bermain saja 🙂

2 thoughts on “Jangan bermain atau diusir satpam :)

  1. Sy tersenyum membaca tulisan ini, brasa tergelit karna membayangkan bagaimana sekolah dapat seefisien mungkin membangun suasana belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar. Padahal kenyataannya banyak sekali sekolah yang hanya peduli agar siswanya mendapat nilai bagus tanpa mautau bagaimana proses belajar mengajarnya, atau bahkan guru yang hanya mau tau siswanya dapat menyelesaikan semua soal yg diberikan tanpa mau tau bagaimana proses mengerjakannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s