Kandang Domba dan Pizza 3 Ribuan

Lagi bayangin 2000 tahun lalu pas jenguk bayi Isa di kandang domba. Banyak tumpukan jerami..tidak ada AC hehehe. Wah bau dupa dan bau khas kandang campur baur. Salah-salah kalau gak hati-hati melangkah bisa nginjek kotoran yang belum sempat dibersihkan. Jalan akses ke kandang juga tanah berdebu. Jadi pas masuk gak ada pelayan yang buka pintu kayak di hotel bintang 5.

Lhaa yang menjenguk juga kebanyakan gembala. Pikirnya jarang orang melahirkan di kandang kalau gak kepepet. Itupun hitungan jari dalam dekade. Kebanyakan masuk rumah sakit bersalin. Jadi bayi ini mesti istimewa karena lahir kepepet gak punya duit buat booking kamar sama dokter spesialis. 

Siapa yang peduli? Orang besar kalau lahir pasti di ruang VVIP dengan fasilitas lengkap plus dikelilingi orang-orang penting. Yang datang menjengguk pun juga mentereng. Deretan mobil mewah pasti memenuhi jalan depan rumah. Hadiah yang diberikan kebanyakan emas. 

Begitulah jalan hidup Sang bayi Isa. Seandainya boleh memilih, sang bayi ingin lahir dimana ya? Apa gak kepingin lahir jadi anak raja yang berkuasa menguasai dunia dengan harta melimpah. Kok milih Siti Maria dan Yosef yang cuma tukang kayu gak punya modal duit melimpah. Padahal susu bayi mahal lhooo. Hehehe

Ohhh.. para gembala bawa shawarma (kayak kebab isi daging domba) buat Yosef dan Maria. Sekadar incip lumayan enak ya makanan mereka hehehhe.

Akupun datang bawah hadiah :  Pizza rumahan yang tipis ala Nanamia,Pampers, susu satu kaleng, dan bubur bayi kotakan. Buat Yosef tak bawakan mesin pasrah kayu (hasil nabung sebulan). Tidak lupa satu set solar panel buat nyalakan mesin karena PLN belum masuk kandang.
Dengan lahir di kandang domba, Isa membuat semuanya jadi berarti dan diterima. Susu cuma bisa beli yang murah meriah (yang penting halal), mesin pasrah cuma dapat KW2 merek pasaran. Coba…coba kalau berani… Jika Isa lahir di istana megah … Berani kasih Pizza 3 ribuan sepotong ? 

Gembala juga terkenal jarang beribadah karena repot urus hewan yang berkeliaran dan sering nakal kluyuran. Apalagi dengan badan dan pakaian kotor berdebu….jadi sungkan untuk beribadah ditempat suci yang bersih. Kesempatan emas nich untuk datang ke kandang apa adanya gak perlu mandi and pakai parfum. Tidak ada yang mikir gitu sich untuk berkunjung ke kandang.

Tempat yang kotor menjadi bersih dengan kehadiran Bayi Isa. Siapapun yang datang menjadi kaya karena semua menjadi berarti bagi Isa yang sangat miskin.

Met Natal kawan !

Peace !

Tafsir Gitanjali ayat 26-28 :)

The child who is decked with prince’s robes and who has jewelled chains round his neck loses all pleasure in his play; his dress hampers him at every step. 

In fear that it may be frayed, or stained with dust he keeps himself from the world, and is afraid even to move.

Yach kalau anak pake baju mahal dan berkelas plus megang Ipad keluaran terbaru biasanya jadi takut kotor saat maen sama temen dan alam. Jadi kebanyakan jadi pengamat sepak bola aja. Cuma liat dan komentar saat temannya maen. Apalagi pake perhiasan mewah.. Wahh nanti takut hilanglah, takut rusaklah. Jadi lebih baik duduk diam sajalah. Apalagi gimana bisa maiinn? Abis ini les itu, abis itu les ini,… Ipad dan baju keren plus perhiasan mewah bisa berwujud prestasi dan piala semeter juga. Jangan malu-maluin ikut kompetisi pulang gak bawa piala nduk !

Mother, it is no gain, thy bondage of finery, if it keep one shut off from the healthful dust of the earth, if it rob one of the right of entrance to the great fair of common human life.

Mama … aku pingin maiinn. Aku khan masih anak-anak. Aku gak mau stress dinii. Justru dari main aku belajar banyak… belajar kenal sana-sini…belajar kehidupan langsung. Ohh “healthful dust” jangan selalu dikemucingin..jangan selalu dipenghisap debu. Jangan selalu dilarang.

Peace !

Ps: 

  • Gitanjali atau kidung persembahan (edisi bahasa Indonesia) karangan Rabindranath Tagore.
  • Namanya tafsir…suka-suka yang tafsir lah.
  • Yang paling ngerti maksud tafsiran ya yang melakukan tafsir.
  • Yang tafsir statusnya tukang kebun, jadi..lol

Perbedaan itu …

Kopiku pahit,musikku kacau,senangku kluyuran, ….Merayakan perbedaan itu berat. Karena untuk bisa merayakan harus punya tiket menjadi diri sendiri. Sedang proses untuk itu sering terjal berliku.Umum terjadi apa yang menjadi “mainstream” itulah diri kita. 

Diri sendiri lebih banyak ditentukan apa yang baik dan etis menurut banyak orang. Jadilah diri kita gerombolan domba sama putih semua dari pikiran,perkataan, dan inisiatif. Menjadi domba berbulu unggu di tengah lautan domba putih tentu mengerikan hehehe.

Barangsiapa kurang menghargai keunikkan diri sendiri akan susah menghargai orang lain yang berbeda. Menjadi diri sendiri punya syarat : Apa sih yang benar-benar diinginkan ? Apa sih menurut kamu sendiri …yach nurut kamu sendiri pribadi gimana? Bukan nurut banyak orang penting, bukan nurut tokoh A,B, dan C. Kalau pemikiranmu gimana?

Jika diri pribadi berdasar persaingan juga repot. Masak bunga mawar mau bersaing sama Anggrek? Tiap bunga punya keindahan masing-masing. Kalau gak mau jadi bunga jadi rumputpun juga gak apa. Apa selalu tiap orang jadi Anggrek semua? khan jadi bosen dunia ini hehehhe.

Kalau kamu seorang dokter ya gak apa. Saya tukang kebun aja hehehhe. Kalau kamu yang dokter merendahkan profesi lain seperti tukang kebun…yah apa benar kamu dokter sungguhan? Apa kebahagiaan saya kamu yang tentukan? 

Menjadi diri sendiri butuh kemandirian luar biasa dalam berolah pikir dan rasa. Hal ini akan menentukan pilihan yang original dari diri sendiri. Tidak apa ada pendapat dan pikiran orang lain. Tapi yang terakhir melakukan eksekusi siapa?  Terus yang memerima konsekuensi siapa?

Mengkaitkan diri sendiri dengan sesuatu yang hebat (entah pemikiran,kepercayaan,tindakan,inisiatif,tren ) juga godaan besar untuk menjadi diri sendiri. Lebih baik tinggalkan itu semua. Jangan mendongak ke atas terus. Lihat ke bawah. Pergi ke tepi pantai ke Ibu lautan dan bertanya siapa dirimu. pergi ke gunung ke Ayah yang kokoh dan bertanya mengapa aku ada?  Laut dan gunung tidak punya kepentingan pribadi untuk tipu-tipu dan manipulasi hehehhe.

Menjadi diri sendiri semudah dan sesulit itu. Jika Anda tidak menghargai kopi saya yang pahit plus musik saya yang kacau…apalagi ditambah membandingkan (eitt..bertanya saja enggak..langsung vonis) trus sampai mana level kematangan pribadi Anda? 

Peace! 

Ossss! 

Kalau kalangan atas dan terpelajar biasa pamerin foto anak sama alat musik keren kayak piano atau Biola..  saya pamerin ini aja dech hehhehe. Biar berani “fight – face to face” terhadap siapapun. Tidak jadi pengecut lempar batu sembunyi tangan. Loe jual gue beli nanti gue jual lagi dapat untung. 

Selain renang, bela diri (apapun jenisnya) adalah penting menurut saya. Ini melatih fisik dan mental. Apalagi anak-anak sedang masa pertumbuhan. Mental untuk disiplin, waspada,berpikir baik, dan pengambilan resiko (kapan harus memukul dan menendang supaya lawan KO hehhee).

Bela diri juga mengandung budaya, seni, dan kode etik yang mana ada unsur keindahan dan kelembutan juga. Menghormati orang yang layak dihormati, membela mereka Yang lemah, hanya menggunakan kekuatan jika dalam keadaan terdesak demi kehormatan diri.. lhaa semakin tinggi tingkatan keliatan semakin biasa (dan diam-diam mematikan). 

Jika Anak aktif dan cenderung liar.. ikutkan saja. Jika Anak pasif.. ikutkan saja. 

Jika gesekan biola dan ketukan piano tidak menyelesaikan masalah… waktunya untuk pukulan dan tendangan yang bicara hehehhe.

Peace! 

Ps: Jangan salah sangka saya tidak menghargai musik kayak piano dan Biola. Hanya bosen saja yang ditampilkan cenderung itu saja. Jadi ini sikap pembelaan saya sama hal yang penting tapi kurang diperhatikan. 

Si Belang :)

Si Belang mulai tumbuh hehehe. Tepatnya sih namanya Bayam Belang. Karena daunnya berwarna hijau sembur merah. Ini proses berkebun yang kalau gak hobby lebih baik beli di supermarket. Namanya baru belajar jadi banyak unsur “awur-awuran” hehehe. 

Dari 100 netpot (pot kecil buat hydroponic) hanya 1/4 saja yang tumbuh karena Rockwood (seperti spon tapi bahan dari batu) ketebalan potongnya hingga air susah naik. Sebelum pos blog ini saya telah perbaiki yang sisanya. Harapannya awal januari sudah bisa panen. Jadi sudah bisa terima orderan sekarang hehhehe… Saya bercanda!  

Hobby naik genteng waktu kecil ternyata berguna. Green house saya bangun di dek atas. Kalau gak biasa naik genteng… yah gak bakalan berkebun sekarang ini. Jadi kalau anak Nakal.. yah positif aja kenakalan sekarang bisa berguna di masa datang.  Lhaa yang terakhir apa hubungannya? 🙂

Peace!